Penulis : Justito Adi Prasetio –
Serangan terhadap asrama mahasiswa Papua Barat di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia, pada 16 Agustus 2019 oleh Front Pembela Islam (FPI), Forum Komunikasi Putra-Putri TNI/Polri (FKPPI), dan Pemuda Pancasila (PP) memperburuk krisis Indonesia dengan Papua Barat. Serangan yang jelas-jelas bersifat rasialis tersebut kemudian memicu penindasan, serta demonstrasi dari warga Papua Barat di berbagai kota. Dalam krisis seperti itu, media online Indonesia tidak memberikan suara yang proporsional dari masyarakat Papua Barat. Hal ini menambah catatan buruk terkait praktik jurnalisme yang terkait dengan Papua Barat yang selama ini tampaknya buruk. Penelitian ini melakukan analisis framing kuantitatif, mengkaji jumlah laporan, penggunaan narasumber, dan penggunaan framing krisis dalam berita, pada enam media online Indonesia: okezone.com, detik.com, kompas.com, tribunnews.com, cnnindonesia.com, dan tirto.id dalam periode 16-31 Agustus 2019. Dari 2.471 laporan berita, dapat dilihat bahwa sebagian besar narasumber utama yang digunakan oleh media berasal dari pemerintah dan aparat serta kepolisian. Masyarakat Papua Barat hanya mendapatkan liputan yang sangat sedikit dibandingkan dengan berbagai berita tentang serangan terhadap asrama mahasiswa Papua Barat dan dampaknya. Frame krisis yang dominan muncul dalam berita adalah frame atribusi tanggung jawab dan frame konflik. Frame human interest, frame moralitas, dan frame ekonomi menempati tiga posisi terbawah.
Artikel ilmiah selengkapnya dapat diakses melalui tautan berikut: https://search.informit.org/doi/abs/10.3316/informit.569404987305786
