Krisis iklim dan dampaknya seperti bencana alam, peningkatan suhu global dan cuaca ekstrem, sebagian besar disebabkan oleh aktivitas ekonomi ekstraktif tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjangnya. Implikasi dari praktik ekonomi ekstraktif, yang terutama menitikberatkan pada pengerukan sumber daya alam dengan skala yang besar, telah mendorong munculnya agenda untuk menerapkan strategi ekonomi yang berfokus pada keberlanjutan dan kelestarian lingkungan.
Pemerintah Indonesia telah menyatakan komitmen untuk mendukung bentuk ekonomi yang lebih berkelanjutan. Bentuk ekonomi ini, kemudian merujuk pada beragam istilah, seperti; ekonomi hijau, ekonomi sirkuler, hingga ekonomi restoratif. Dalam praktiknya, khususnya dalam ranah pengambilan kebijakan, ketiga istilah tersebut kerap digunakan secara bergantian, terlebih dalam konteks ekonomi yang menitikberatkan pada pendekatan restoratif.
Memetakan bagaimana narasi isu ekonomi yang berkelanjutan menjadi hal penting, mengingat adanya dinamika dinamika yang terus berlangsung antara krisis iklim, tata kelola sumber daya alam, dan agenda perkembangan ekonomi, yang kemudian akan berimplikasi pada tataran praktik dan implementasinya. Narasi ini penting karena peralihan menuju ekonomi restorative tidak bisa lepas dari konteks politik yang lebih luas.
Laporan ini merupakan upaya untuk menjawab pertanyaan mengenai bagaimana isu terkait Ekonomi Restoratif (ER) diberitakan dan diperbincangkan pada media dan media sosial di Indonesia, termasuk mengenai pemahaman jurnalis tentang isu tersebut. Melalui analisis konten 1958 artikel berita terkait ekonomi restoratif dan analisis perbincangan di media sosial X/Twitter, studi ini menemukan bahwa istilah ekonomi restoratif masih kurang populer dan jarang muncul di media atau media sosial, meski ada kekhawatiran bahwa istilah ini cenderung dimonopoli oleh narasi pemerintah atau dimanfaatkan industri untuk greenwashing. Di sisi lain, sebagian besar jurnalis masih lebih familiar dengan istilah ekonomi hijau dan sirkuler dibandingkan ekonomi restoratif (ER), yang belum menjadi prioritas utama media. Kurangnya pemahaman dan keragaman istilah membuat penyebaran isu ER kurang maksimal, ditambah minimnya narasi implementatif dari pemerintah.
Laporan selengkapnya dapat diakses melalui tautan berikut: https://bit.ly/LaporanEkonomiRestoratif




