YOGYAKARTA, 21 November 2025 – Combine Resource Institution (CRI) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Inklusi Digital untuk Meaningful Community-Centered Connectivity Initiatives (CCCIs)” di Kampung Mataraman, Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan inisiatif strategis CRI bersama jejaring masyarakat sipil untuk merespons tantangan kesenjangan digital yang masih meminggirkan kelompok rentan di Indonesia.
Dalam pelaksanaannya, CRI menggandeng Pusat Studi Komunikasi, Media, Budaya, dan Sistem Informasi (CMCI) Fikom Universitas Padjadjaran untuk memperkuat aspek pendokumentasian dan riset. Kepala Pusat Studi CMCI, Subekti W. Priyadharma, bersama asisten peneliti Rudy Hartanto, hadir secara langsung untuk membantu memetakan dinamika diskusi menjadi basis data riset yang akan diolah menjadi rekomendasi kebijakan (policy brief).
Forum ini dihadiri oleh representasi beragam dari organisasi masyarakat sipil (OMS) dan lembaga negara yang fokus pada isu inklusi dan hak digital. Selain CRI, Common Room, dan Relawan TIK, kegiatan ini turut dihadiri oleh perwakilan dari Komisi Nasional Disabilitas (KND), Komisi Informasi Daerah (KID) DIY, SIGAB (Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel), SABDA, Pesantren Waria Al-Fatah, ICT Watch, AJI Yogyakarta, Jaringan Gusdurian, PKBI Yogyakarta, LKIS, PKK Panggungharjo, serta komunitas Ibu Berisik. Kehadiran lintas sektor ini menegaskan urgensi kolaborasi dalam mendorong kebijakan digital yang lebih adil
Panel Diskusi: Membedah Realitas Lapangan
Rangkaian kegiatan dibuka dengan diskusi panel yang mempertemukan perspektif akar rumput dan advokasi kebijakan. Sesi ini menghadirkan narasumber Ajiwan Arief Hendradi (SIGAB), Yuni Shara (Pesantren Waria Al-Fatah), dan Trisna (ICT Watch). Panel ini berfungsi sebagai pemantik kritis sebelum peserta masuk ke dalam diskusi kelompok terpumpun.
Tiga isu krusial yang menjadi sorotan utama dalam panel ini meliputi:
- Desain yang Memblokir Akses: Banyak aplikasi publik yang secara tidak sadar dirancang eksklusif, mempersulit difabel (misal: penggunaan verifikasi wajah dan CAPTCHA visual).
- Paradigma Pisau Bermata Dua: Bagi kelompok marginal, teknologi membuka peluang ekonomi sekaligus meningkatkan kerentanan terhadap persekusi dan penipuan digital.
- Partisipasi Bermakna: Desakan agar pelibatan kelompok rentan dalam regulasi (seperti UU PDP dan Keamanan Siber) bersifat substansial, bukan sekadar formalitas.
Dalam pemaparannya, Ajiwan Arief Hendradi menyoroti data lapangan yang mengkhawatirkan, “Hanya 9% teman-teman difabel yang memiliki akses terhadap inklusi digital. Ini menunjukkan bahwa transformasi digital kita belum ramah; teknologi seharusnya menghapus hambatan, bukan menciptakan tembok baru.”
Sementara itu, Yuni Shara (YS) menekankan aspek keamanan bagi komunitas marginal, “Digitalisasi membantu kami mengatasi hambatan geografis dan ekonomi, namun tanpa literasi keamanan yang kuat, visibilitas digital justru bisa memicu kerentanan sosial dan keamanan fisik bagi komunitas kami.”
Harapan dan Tindak Lanjut
Melalui proses fasilitasi yang dilakukan oleh Combine Resource Institution dan dukungan dokumentasi riset dari CMCI, hasil FGD ini diproyeksikan untuk menjadi:
- Landasan penyusunan naskah kebijakan (policy brief) terkait penerapan Regulatory Sandbox Internet Komunitas Bermakna termasuk didalamnya dukungan kebijakan untuk inovasi teknologi inklusif.
- Masukan konkret bagi aturan turunan UU Pelindungan Data Pribadi (PDP) dan RUU Ketahanan Siber agar lebih berperspektif inklusi.
- Peta jalan penguatan ekosistem internet komunitas yang bermakna (Meaningful CCCIs) di Indonesia.
TENTANG ORGANISASI
Tentang Combine Resource Institution (CRI)
Combine Resource Institution adalah Lembaga yang berfokus pada penguatan kapasitas komunitas dalam pengelolaan informasi, pengetahuan, dan teknologi komunikasi untuk mendorong tata kelola yang adil, transparan, dan berkelanjutan. CRI bertindak sebagai pengampu utama kegiatan advokasi dan pemberdayaan komunitas digital.
Tentang Common Room
Platform terbuka untuk kreativitas, inovasi teknologi, dan seni budaya yang berbasis di Bandung. Common Room aktif dalam pengembangan infrastruktur internet berbasis komunitas (“School of Community Networks”) di wilayah pedesaan dan terpencil.
Tentang ICT Watch
Organisasi masyarakat sipil yang berdedikasi pada literasi digital, perlindungan hak asasi manusia di ranah daring (digital rights), dan tata kelola internet yang demokratis dan aman di Indonesia.
Tentang Koalisi Rembuk Nusa
Aliansi strategis masyarakat sipil yang terdiri dari berbagai organisasi (termasuk Common Room, CRI, Relawan TIK, dan mitra lokal lainnya) yang fokus mengadvokasi kebijakan pemerataan akses internet dan pengembangan infrastruktur digital berbasis komunitas di Indonesia.
Tentang CMCI Fikom Unpad
Center for Communication, Media, Culture, and Information System (CMCI) adalah pusat studi di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran yang berfokus pada riset interdisipliner. CMCI berperan menyediakan dukungan akademis dan riset kebijakan untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan kebijakan publik.




